Sebenarnya gue agak bingung juga mesti mulai dari mana gue cerita, apa yang selalu gue alami dan rasakan ya hampir selalu sama. Mungkin kali ini dan seterusnya, gue bakalan jadiin blog sebagai tempat curhat gue, exactly about my opinion in this life and everything happened, happens and will be happening in future. Setelah gue pikir - pikir ternyata apapun hal dan kegiatan yang kita lakukan dalam segala kondisi, pasti aja akan selalu menumbuhkan begitu banyak komentar. Gue sadar banget kok kalau gue bukan artis beken, gaul, keren yang hobinya selalu dikejar paparazzi dan muncul dengan banyak sensasi, finally mereka pun akan dihujati oleh banyak komentar yang 80% so bad to hear. Berangkat dari pengalaman gue pribadi yang emang datang dari kehidupan super biasa, bukan artis, bukan orang beken, populer, maupun dikenal sama masyarakat Indonesia, apalagi masyarakat internasional.
Dari zaman gue kecil, lebih tepatnya saat umur gue masih 5 tahun, gue udah masuk SD. Bukan karena gue belagu sok rajin atau sok pintar, melainkan karena teman-teman di sekitar lingkungan rumah gue udah pada sekolah dengan umur yang cukup untuk mereka memasuk bangku SD dan gue gak punya temen main kalo mereka lagi pada sekolah, akhirnya gue bilang sama nyokap kalo gue ingin masuk SD meskipun harus telat beberapa minggu. Nyokap yang saat itu sadar dan kasian liat gue main sendiri di rumah pun akhirnya kasih izin untuk daftarkan gue ke salah satu sekolah swasta. Beruntung lah gue saat itu karena belum ada aturan ketat bahwa setiap siswa SD minimal harus sudah beranjak usia 6 atau 7 tahun. Kehidupan gue di SD berlangsung cukup baik, meskipun emang gue dianggap 'anak bawang' karena selain umur gue yang masih di bawah teman - teman lain, tubuh gue yang sedikit 'imut' pun mempengaruhi guyonan tersebut. Gue sih fine aja, namun menjelang kelulusan gue, terdengar sedikit sentilan dari beberapa temen dan guru gue yang bilang kalo gue tuh gak ramah, ketus, jutek dan judes. All of the unfine faces came to myself, until my parents knew about it, bokap seringkali negur karena kalo jadi orang tuh harus ramah dan bla bla bla, Gue yang saat itu gak pernah terbesit berpikir mengenai sikap gue yang kata mereka gak ramah pun sering dijadikan pembicaraan, begitu pun saudara - saudara gue berpikir seperti itu dan malah bikin panas suasana. Padahal di sisi lain gue ga bermaksud seperti itu, sampai akhirnya gue masuk SMP, selama 3 tahun full semua temen nganggap gue cewek judes. Memasuki SMA pun, sama aja, bahkan beberapa guru sempet komen secara halus sama gue.
Hingga akhirnya gue udah beranjak 20 tahun, meskipun terkadang sikap gue masih agak bocah, namun gue bisa berpikir kritis dan dari sini lah gue berpikir kalo orang - orang Indonesia tuh hampir 90% terlalu mudah sensitif dan menanggapi sesuatu secara berlebihan. Hanya karena wajah judes gak ramah seperti gue aja, setiap orang yang gue temui merasa terganggu and gave some advices for changing my face better conditionally. namun percuma aja mereka buang - buang waktu untu komentar mengenai sikap gue karena gue berpikir sesuai dengan apa yang sering dikatakan oleh banyak filsuf that don't judge the book by the cover. Gue sama sekali gak ngerasa kalo pribadi gue baik, tapi gue ingin kasih saran aja bagi setiap orang supaya don't think much about other people and you don't know her or him correctly !
Gue gak begitu peduli sama perkataan mereka yang menyudutkan gue sebagai cewe judes, this is my life and I don't care what people says to me, I'm still feeling comfort and walk on my path to do my activities. Semua ini bagaikan stereotype yang udah tumbuh pada diri gue dan berujung pada kepribadian gue yang emang bener-bener seperti mereka bicarakan. Seperti yang lu semua tau, kalo seseorang sering di-judge mengenai dirinya ini lah, itu lah dan lain hal, maka ia pun akan melakukannya secara total supaya menjadikan bukti, kalo emang bener dia konsisten. Well, gue pernah coba untuk bersikap ramah, tapi perasaan gue gak ada perubahan dan orang sekitar pun menanggapi biasa saja. That's why, mereka hanya gak punya kerjaan yang lebih penting selain membicarakan diri orang lain.
Blog List
Minggu, 19 Maret 2017
Minggu, 12 Maret 2017
Demonstrasi Bawa Perasaan
![]() |
| Image source : google |
Pasca itu gue pernah baca salah satu artikel yang intinya bahwa setelah ada istilah 'baper', setiap orang semakin merasa segala yang mereka lakukan itu terbatasi dan dibatasi hanya karena 'baper'. Contoh aja nih ya "Ih ngapain sih lu baca novel begituan aja nangis, baper amat sih lu. Lah, dikasih nilai segitu aja seneng, baper lu. BTW, kemarin orang tua si A meninggal, si A langsung bikin status, baper banget kan dia, bla...bla...bla". Terkadang dengan adanya sikap seperti itu, beberapa orang menjadi enggan untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Terbukti banget kan kalau segala hal yang terjadi pasti ujung - ujungnya gak jauh dari 'baper', kebetulan banget gue pun tertarik sama istilah itu untuk suatu kondisi yang emang pantas kalo dibilang bawa perasaan alias baper. Beberapa hari lalu terjadi kehebohan luar biasa yang disebabkan oleh para demonstran angkot di kawasan Kota Bandung terhadap setiap pengemudi dan pengendara transportasi berbasis online. Transportasi berbasis online udah banyak banget dan variasinya pun cukup terkenal seperti G...K, U..R, G..B, Kalian pun udah gak heran apa maksud dan tujuan mereka dalam melakukan aksi yang menurut gue sungguh gak berguna banget, pemborosan tanpa hasil. Kenapa gue bisa dengan berani berpendapat kalo yang namanya demonstrasi itu gak penting? Which is yang dilakukan oleh para demonstran angkot saat itu adalah hanya membuat kerusuhan, bahkan mereka hampir membunuh satu rombongan mobil yang mereka pikir sebagai pengemudi transportasi online hanya karena hipotesa bahwa "setiap transportasi yang sedang berhenti adalah transportasi online".
Gue lebih milih kata hipotesa sebagai kata yang lebih cocok digunakan untuk menganalisa kegaduhan mereka karena kalo gue pakai kata asumsi, rasanya saling berlawanan dengan fakta yang terjadi. Hipotesa tentu harus dibuktikan terlebih dahulu apabila kita ingin mengetahui suatu hasil dalam menganalisa, sedangkan asumsi dasar gak perlu dibuktikan karena itu adalah hal yang relevan dan 90% dijadikan sebagai hasil yang pasti akan terjadi. Nah, kesalahan yang dilakukan oleh para demonstran sangat berlebihan, gue sempat berpikir kalau setiap demonstrasi yang terjadi di Indonesia emang mayoritas gak beradab, mereka lebih memprioritaskan perasaan tanpa didasari logika berpikir. Kekerasan dijadikan sebagai rutinitas, kekasaran dijadikan sebagai fasilitas, kerusuhan dijadikan sebagai prioritas, kebencian dijadikan sebagai sebuah totalitas dan kesalahan dijadikan sebagai sebuah integritas. Setiap manusia diberikan akal oleh tuhan untuk digunakan maupun dimanfaatkan dengan baik, lalu kenapa justru yang lebih banyak digunakan oleh manusia adalah perasaan tanpa didasari berpikir terlebih dahulu.
Apabila para demonstran angkot saat itu memang ingin melakukan demonstrasi, cobalah lakukan dengan cara yang sedikit lebih elegant dan beradab tanpa harus mengedepankan emosi. Menurut gue nih, sebelumnya kenapa mereka gak berpikir terlebih dahulu untuk menciptakan inovasi baru, kalau emang transportasi online itu banyak dibur karena mudah cepat sampai tujuan, harga terjangkau, banyak diskon, figure yang nyaman serta tersebar di banyak lokasi. Coba kalau saat itu supir-supir angkot mempromosikan daya tarik dalam menaiki angkot mereka dengan program yang menarik penumpang seperti untuk anak sekolah diberikan potongan harga sekian persen, untuk ibu-ibu diberikan potongan harga sekian persen, untuk penumpang bapak-bapak diberikan potongan harga sekian persen dan untuk manula diberikan potongan harga sekian persen di setiap hari tertentu. Mungkin kalian akan berpikir kalau dengan cara ini sangat merugikan bagi supir angkot, tapi sebenarnya justru akan menarik perhatian penumpang dan pada akhirnya pun gue jamin bakalan jadi hits gak lama setelah mereka open minded to do something unique and better. Atau cara lain seperti mengindahkan figure angkot mereka dengan sedikit kreativitas, misalnya menempelkan dua sayap pesawat di kedua sisi angkot, hal ini bertujuan agar dianalogikan seperti pesawat terbang yang memiliki kecepatan super untuk mengantarkan setiap penumpang ke tempat tujuan dengan cepat. Meskipun itu terdengar weird di hadapan masyarakat, namun kita perlu ingat bahwa segala sesuatu yang terlihat unik dan berbeda itu adalah daya tarik bagi masyarakat.
So that, saat kita berniat untuk berdemo yang harus kalian ingat adalah demo itu bukan tentang perasaan, lagipula tujuan dari demonstrasi adalah untuk menyampaikan opini, bukan untuk memperlihatkan emosi mereka apalagi hanya karena masalah sepele pun kita baper banget. Justru ini yang gue takutkan dari istilah 'baper' yang sebenarnya adalah mereka gak bisa mengendalikan apa yang mereka rasakan dan semakin bertingkah anarkis dalam segala situasi dan kondisi. Bagi kalian yang mengaku sebagai generasi muda, gue harap kalian lebih kritis dan gak mudah terprovokasi oleh suatu kabar yang kalian dengar dari mayoritas karena gak selamanya suara mayoritas adalah suara tuhan, tetap saja kalian harus meneliti dan menganalisa kabar burung yang diterima dan tentunya dengan menggunakan akal dan logika, bukan perasaan. Manusia yang selalu mengandalkan perasaannya, lambat laun akan menciutkan kemampuan berpikirnya dan bersiaplah say good bye to your beauty brain.
Let's think critically in every situation cause actually the benefits those you get from thinking is more real than your feeling !
Langganan:
Komentar (Atom)

