![]() |
| Image source : google |
Pasca itu gue pernah baca salah satu artikel yang intinya bahwa setelah ada istilah 'baper', setiap orang semakin merasa segala yang mereka lakukan itu terbatasi dan dibatasi hanya karena 'baper'. Contoh aja nih ya "Ih ngapain sih lu baca novel begituan aja nangis, baper amat sih lu. Lah, dikasih nilai segitu aja seneng, baper lu. BTW, kemarin orang tua si A meninggal, si A langsung bikin status, baper banget kan dia, bla...bla...bla". Terkadang dengan adanya sikap seperti itu, beberapa orang menjadi enggan untuk mengekspresikan perasaan mereka.
Terbukti banget kan kalau segala hal yang terjadi pasti ujung - ujungnya gak jauh dari 'baper', kebetulan banget gue pun tertarik sama istilah itu untuk suatu kondisi yang emang pantas kalo dibilang bawa perasaan alias baper. Beberapa hari lalu terjadi kehebohan luar biasa yang disebabkan oleh para demonstran angkot di kawasan Kota Bandung terhadap setiap pengemudi dan pengendara transportasi berbasis online. Transportasi berbasis online udah banyak banget dan variasinya pun cukup terkenal seperti G...K, U..R, G..B, Kalian pun udah gak heran apa maksud dan tujuan mereka dalam melakukan aksi yang menurut gue sungguh gak berguna banget, pemborosan tanpa hasil. Kenapa gue bisa dengan berani berpendapat kalo yang namanya demonstrasi itu gak penting? Which is yang dilakukan oleh para demonstran angkot saat itu adalah hanya membuat kerusuhan, bahkan mereka hampir membunuh satu rombongan mobil yang mereka pikir sebagai pengemudi transportasi online hanya karena hipotesa bahwa "setiap transportasi yang sedang berhenti adalah transportasi online".
Gue lebih milih kata hipotesa sebagai kata yang lebih cocok digunakan untuk menganalisa kegaduhan mereka karena kalo gue pakai kata asumsi, rasanya saling berlawanan dengan fakta yang terjadi. Hipotesa tentu harus dibuktikan terlebih dahulu apabila kita ingin mengetahui suatu hasil dalam menganalisa, sedangkan asumsi dasar gak perlu dibuktikan karena itu adalah hal yang relevan dan 90% dijadikan sebagai hasil yang pasti akan terjadi. Nah, kesalahan yang dilakukan oleh para demonstran sangat berlebihan, gue sempat berpikir kalau setiap demonstrasi yang terjadi di Indonesia emang mayoritas gak beradab, mereka lebih memprioritaskan perasaan tanpa didasari logika berpikir. Kekerasan dijadikan sebagai rutinitas, kekasaran dijadikan sebagai fasilitas, kerusuhan dijadikan sebagai prioritas, kebencian dijadikan sebagai sebuah totalitas dan kesalahan dijadikan sebagai sebuah integritas. Setiap manusia diberikan akal oleh tuhan untuk digunakan maupun dimanfaatkan dengan baik, lalu kenapa justru yang lebih banyak digunakan oleh manusia adalah perasaan tanpa didasari berpikir terlebih dahulu.
Apabila para demonstran angkot saat itu memang ingin melakukan demonstrasi, cobalah lakukan dengan cara yang sedikit lebih elegant dan beradab tanpa harus mengedepankan emosi. Menurut gue nih, sebelumnya kenapa mereka gak berpikir terlebih dahulu untuk menciptakan inovasi baru, kalau emang transportasi online itu banyak dibur karena mudah cepat sampai tujuan, harga terjangkau, banyak diskon, figure yang nyaman serta tersebar di banyak lokasi. Coba kalau saat itu supir-supir angkot mempromosikan daya tarik dalam menaiki angkot mereka dengan program yang menarik penumpang seperti untuk anak sekolah diberikan potongan harga sekian persen, untuk ibu-ibu diberikan potongan harga sekian persen, untuk penumpang bapak-bapak diberikan potongan harga sekian persen dan untuk manula diberikan potongan harga sekian persen di setiap hari tertentu. Mungkin kalian akan berpikir kalau dengan cara ini sangat merugikan bagi supir angkot, tapi sebenarnya justru akan menarik perhatian penumpang dan pada akhirnya pun gue jamin bakalan jadi hits gak lama setelah mereka open minded to do something unique and better. Atau cara lain seperti mengindahkan figure angkot mereka dengan sedikit kreativitas, misalnya menempelkan dua sayap pesawat di kedua sisi angkot, hal ini bertujuan agar dianalogikan seperti pesawat terbang yang memiliki kecepatan super untuk mengantarkan setiap penumpang ke tempat tujuan dengan cepat. Meskipun itu terdengar weird di hadapan masyarakat, namun kita perlu ingat bahwa segala sesuatu yang terlihat unik dan berbeda itu adalah daya tarik bagi masyarakat.
So that, saat kita berniat untuk berdemo yang harus kalian ingat adalah demo itu bukan tentang perasaan, lagipula tujuan dari demonstrasi adalah untuk menyampaikan opini, bukan untuk memperlihatkan emosi mereka apalagi hanya karena masalah sepele pun kita baper banget. Justru ini yang gue takutkan dari istilah 'baper' yang sebenarnya adalah mereka gak bisa mengendalikan apa yang mereka rasakan dan semakin bertingkah anarkis dalam segala situasi dan kondisi. Bagi kalian yang mengaku sebagai generasi muda, gue harap kalian lebih kritis dan gak mudah terprovokasi oleh suatu kabar yang kalian dengar dari mayoritas karena gak selamanya suara mayoritas adalah suara tuhan, tetap saja kalian harus meneliti dan menganalisa kabar burung yang diterima dan tentunya dengan menggunakan akal dan logika, bukan perasaan. Manusia yang selalu mengandalkan perasaannya, lambat laun akan menciutkan kemampuan berpikirnya dan bersiaplah say good bye to your beauty brain.
Let's think critically in every situation cause actually the benefits those you get from thinking is more real than your feeling !

0 komentar:
Posting Komentar