Minggu, 19 Maret 2017

Stereotype Berujung Kepribadian

Diposting oleh Unknown di 06.45
Sebenarnya gue agak bingung juga mesti mulai dari mana gue cerita, apa yang selalu gue alami dan rasakan ya hampir selalu sama. Mungkin kali ini dan seterusnya, gue bakalan jadiin blog sebagai tempat curhat gue, exactly about my opinion in this life and everything happened, happens and will be happening in future. Setelah gue pikir - pikir ternyata apapun  hal dan kegiatan yang kita lakukan dalam segala kondisi, pasti aja akan selalu menumbuhkan begitu banyak komentar. Gue sadar banget kok kalau gue bukan artis beken, gaul, keren yang hobinya selalu dikejar paparazzi dan muncul dengan banyak sensasi, finally mereka pun akan dihujati oleh banyak komentar yang 80% so bad to hear. Berangkat dari pengalaman gue pribadi yang emang datang dari kehidupan super biasa, bukan artis, bukan orang beken, populer, maupun dikenal sama masyarakat Indonesia, apalagi masyarakat internasional.

Dari zaman gue kecil, lebih tepatnya saat umur gue masih 5 tahun, gue udah masuk SD. Bukan karena gue belagu sok rajin atau sok pintar, melainkan karena teman-teman di sekitar lingkungan rumah gue udah pada sekolah dengan umur yang cukup untuk mereka memasuk bangku SD dan gue gak punya temen main kalo mereka lagi pada sekolah, akhirnya gue bilang sama nyokap kalo gue ingin masuk SD meskipun harus telat beberapa minggu. Nyokap yang saat itu sadar dan kasian liat gue main sendiri di rumah pun akhirnya kasih izin untuk daftarkan gue ke salah satu sekolah swasta. Beruntung lah gue saat itu karena belum ada aturan ketat bahwa setiap siswa SD minimal harus sudah beranjak usia 6 atau 7 tahun. Kehidupan gue di SD berlangsung cukup baik, meskipun emang gue dianggap 'anak bawang' karena selain umur gue yang masih di bawah teman - teman lain, tubuh gue yang sedikit 'imut' pun mempengaruhi guyonan tersebut. Gue sih fine aja, namun menjelang kelulusan gue, terdengar sedikit sentilan dari beberapa temen dan guru gue yang bilang kalo gue tuh gak ramah, ketus, jutek dan judes. All of the unfine faces came to myself, until my parents knew about it, bokap seringkali negur karena kalo jadi orang tuh harus ramah dan bla bla bla, Gue yang saat itu gak pernah terbesit berpikir mengenai sikap gue yang kata mereka gak ramah  pun sering dijadikan pembicaraan, begitu pun saudara - saudara gue berpikir seperti itu dan malah bikin panas suasana. Padahal di sisi lain gue ga bermaksud seperti itu, sampai akhirnya gue masuk SMP, selama 3 tahun full semua temen nganggap gue cewek judes. Memasuki SMA pun, sama aja, bahkan beberapa guru sempet komen secara halus sama gue.

Hingga akhirnya gue udah beranjak 20 tahun, meskipun terkadang sikap gue masih agak bocah, namun gue bisa berpikir kritis dan dari sini lah gue berpikir kalo orang - orang Indonesia tuh hampir 90% terlalu mudah sensitif dan menanggapi sesuatu secara berlebihan. Hanya karena wajah judes gak ramah seperti gue aja, setiap orang yang gue temui merasa terganggu and gave some advices for changing my face better conditionally. namun percuma aja mereka buang - buang waktu untu komentar mengenai sikap gue karena gue berpikir sesuai dengan apa yang sering dikatakan oleh banyak filsuf that don't judge the book by the cover. Gue sama sekali gak ngerasa kalo pribadi gue baik, tapi gue ingin kasih saran aja bagi setiap orang supaya don't think much about other people and you don't know her or him correctly ! 

Gue gak begitu peduli sama perkataan mereka yang menyudutkan gue sebagai cewe judes, this is my life and I don't care what people says to me, I'm still feeling comfort and walk on my path to do my activities. Semua ini bagaikan stereotype yang udah tumbuh pada diri gue dan berujung pada kepribadian gue yang emang bener-bener seperti mereka bicarakan. Seperti yang lu semua tau, kalo seseorang sering di-judge mengenai dirinya ini lah, itu lah dan lain hal, maka ia pun akan melakukannya secara total supaya menjadikan bukti, kalo emang bener dia konsisten. Well, gue pernah coba untuk bersikap ramah, tapi perasaan gue gak ada perubahan dan orang sekitar pun menanggapi biasa saja. That's why, mereka hanya gak punya kerjaan yang lebih penting selain membicarakan diri orang lain.



0 komentar:

Posting Komentar

 

Mumtaz's Script Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea