Sabtu, 19 Agustus 2017

Problematika Anak Muda (2) : Apatisme sebagai Vitalisme

Diposting oleh Unknown di 01.15 0 komentar


Angka pertumbuhan penduduk dunia semakin meningkat setiap detiknya, hal tersebut memicu mereka untuk saling melindungi diri masing - masing. Ini terjadi karena secara logika pun kita akan berpikir bahwa dengan meningkatnya populasi penduduk, khususnya di negara kita sendiri yakni Indonesia, tentu lahan untuk tempat tinggal akan semakin sempit. Selain itu juga permasalahan baru akan selalu muncul, bahkan permasalahan - permasalahan lama saja belum tentu dapat dituntaskan begitu saja.

Generasi muda masa kini seringkali tidak menghiraukan hal - hal seperti itu, bukan mengenai angka pertumbuhan yang meningkat, melainkan bagaimana kita mampu memberikan sedikit solusi tentang masalah tersebut. 
Bukan mengenai karena hal - hal tertentu yang kita cap sebagai "bukan bidang kita" terus - menerus tumbuh dalam pikiran anak muda masa kini. Gue menyampaikan mengenai populasi penduduk di awal hanya sebagai prolog yang memiliki relasi di uraian selanjutnya, pada ulasan kali ini ini gue ingin membahas mengenai sikap anak muda yang terlihat sangat apatis terhadap hal - hal yang mereka anggap bahwa itu bukan bagian dari bidangnya.

Kejadian ini bukan hanya mengenai satu atau dua kasus saja karena di sisi lain ada banyak sekali persoalan yang dianggap remeh oleh anak muda, sebut saja perbincangan perpolitikan yang selalu menjadi tranding topic. Sungguh disayangkan sekali karena hampir seluruh masyarakat Indonesia selalu memberikan kesan sensitif terhadap politik, ya meskipun memang banyak di antara mereka pula yang selalu menyuarakan argumentasi politik, namun itu pun ga akan pernah lepas dari saling sindir antara satu dengan yang lain dan ujung - ujungnya adalah apatisme.

***
Saat ini banyak banget anak muda yang sering mencurahkan rasa kekesalan mereka lewat media sosial tentu nya sebagai suatu perantara yang emang manjur banget membuat mereka tidak pernah lepas dalam memegang masing - masing gagdet nya. Meskipun begitu, tidak sedikit dari mereka yang justru salah kaprah dalam berspekulasi macam hal dan termasuk mengenai situasi negara ini dalam segala macam perpolitikan. Gue selalu berusaha untuk bersikap netral dalam beberapa perbincangan, di sini gue mencoba untuk sedikit menyadarkan saja mengenai tindakan yang seringkali dipublikasikan oleh anak muda seperti "... Hidup di Indonesia mah ga akan maju - maju, wong para pejabatnya doang yang memajukan diri masing - masing, dih apaan presiden anu malah terpilih ya tambah kacau aja Indonesia, ah males banget kalo mikirin politik mah ga akan ada ujung nya, dan lain sebagainya..."

Gue pribadi sih miris banget kalo denger ucapan - ucapan seperti yang emang faktanya bahwa mereka tuh tidak ada saat kejadian tersebut sedang terjadi, namun dengan berani mereka berucap seperti itu. Gue tidak membela pihak mana pun hanya karena gue seorang mahasiswi ilmu politik yang notabene nya memang harus memberikan citra baik mengenai politik itu sendiri di hadapan khalayak. Jadi begini loh guys ya kan kita bangsa Indonesia, apapun itu baik dan buruknya negara kita, apa lantas kita harus mengejek dan memperburuk negara kita sendiri ?

Masih belum jelas ?
Analogi nya adalah saat orang tua lu yang udah tua renta dengan usianya, khususnya nyokap kalian yang sudah melahirkan kalian ke dunia ini, sedang tidak mampu memberikan sesuatu yang sedang lu butuhkan saat itu juga, baik maupun buruknya mereka, lantas apa perlu kita memperburuk keadaan mereka ?
Apakah sesuatu akan menjadi lebih baik hanya dengan kita mengejek dan memperolok ?
Tentu tidak guys !
Ini salah satu penyakit manusia, terutama bagi anak muda yang memang sangat sulit untuk menghindarinya. Gue juga merasakan ko, namun bagi gue pribadi punya pikiran bahwa daripada lu banyak bicara hal - hal yang tidak sepatutnya lu lontarkan tanpa didasari pada fakta, mending lu diam dan berpikir aja dulu deh. Mungkin beberapa dari kita beranggapan bahwa jika kita hanya diam, tandanya apatis. Namun, in other side it doesn't mean like that all karena sesuai dengan satu kata mutiara yang sangat familiar bahwa diam itu adalah emas, memang betul dan saat lu udah diam  sambil menjernihkan pikiran lu serta mencari suatu solusi, emas itu bisa saja berubah menjadi berlian maupun permata yang indah bukan ?

Tidak perlu terburu - buru dalam menyimpulkan suatu kasus yang faktanya kalian hanya ikut -ikutan supaya dapat dikatakan mengikuti zaman lah dengan banyak nya pembahasan yang seringkali kalian lontarkan saat sedang bergabung ataupun berceloteh bersama teman - teman mereka. Sadar gak sih kalau segala ucapan dan tindakan yang kita kerjakan itu adalah point, sewaktu - waktu point tersebut dapat bertambah maupun berkurang. Mungkin kalian berpikir " ...ya suka - suka gue dong, mulut kan mulut gue, kenapa lu yang repot sih ? "
Nah, sebenarnya bisa juga kan gue jawab lagi seperti "... ya suka - suka gue juga dong, kan gue juga punya pikiran untuk menilai lu atau tidal, kenapa lu yang repot sih ? hahaha ".

But, i don't interest to say like that cause it's not a solution in solving of problem, pesan gue untuk seluruh generasi muda Indonesia sangat sederhana yakni kalau kalian emang ga mau dikatakan seorang yang apatis dalam menanggapi suatu kasus, ya kalian harus mampu untuk memanfaatkan "apatis" itu menjadi sebuah vitalisme tersendiri dengan tidak memperolok hal - hal yang tidak seharusnya diperolok, ubahlah mind set kalian dalam segala hal dan lahirkan lah pesona diri kalian masing - masing dengan tidak harus terhasut oleh pembicaraan lain, berpikirlah dengan cerdas mulai saat ini :) 

Jumat, 04 Agustus 2017

Problematika Anak Muda (1) : Dikit - dikit nikah aja deh

Diposting oleh Unknown di 00.02 0 komentar



Beberapa hari yang lalu gue udah sempat menceritakan hal ini di salah satu media sosial yang lagi hits di zaman sekarang, yaitu akun instagram. Sejauh ini tiap gue liat insta story mereka, apalagi beberapa orang yang sedang melakukan penelitian dan menyelesaikan tugas akhir, pasti aja ada caption "...pusing nih #NIKAHSEKARANGAJAYUK, besok nikah eh besok sidang, #NIKAHMUDAAJADEH, etc..." Buset ya, mesti dipake hashtag segala.

Gue mengambil topik seperti ini karena memang zaman sekarang tuh banyak anak muda yang dengan mudahnya selalu mengatakan "nikah aja deh", namun mereka asal nyeletuk aja karena didasarkan pada masing - masing problematika yang sedang mereka alami. Problematika anak muda zaman sekarang tuh sangat identik dengan :

  1. Mudah  mengeluh ;
  2. Mudah menyerah ;
  3. Mudah meremehkan.
Greget banget sama anak muda zaman sekarang, khususnya para mahasiswa/i yang sedang mengerjakan kewajiban nya dalam menuntut ilmu, tentu saja ga akan pernah lepas dari hal - hal seperti membuat laporan, penelitian dan TA (skripsi). Seiring berjalannya waktu pun gue sering mendengar keluh kesah yang dialami mereka, termasuk beberapa teman gue kalo emang lagi pada kewalahan dengan mudah nya they said that "...Duh, pusing amat yak... tau gini jadi ingin nikah aja deh, hmm".

Begini loh guys, ya kalau emang ini udah pilihan kita ya jalani aja toh pasti bakal ketemu ujungnya dan jangan pernah berpikir kalau dengan menikah bakalan meringankan segala pikiran lu, meskipun banyak orang yang bilang bahwa "rezeki gak akan kemana..." ya logika aja sih, meskipun rezeki emang gak akan kemana, namun lu juga harus berusaha keras untuk memecahkan problematika hidup lu sendiri dulu.

Gue pribadi sih geli aja kalo misalkan harus menyelesaikan suatu problem dengan cara "nikah aja yuk", see sekarang udah abad 20 dan anak - anak muda masa kini yang katanya generasi emas justru gak punya pikiran panjang dalam menelusuri masa depan mereka. Hal ini disebabkan dengan banyaknya anak muda yang sembrono dan mudah mengeluh dalam berucap, tanpa berpikir terlebih dahulu.

Lucu aja sih dengernya, masa iya hanya karena kewajiban kalian dalam menuntut ilmu, banyak anak muda yang mudah mengeluh, dikit - dikit minta nikah. Baru aja lu hidup seumur biji jagung aja udah ngeluh, apalagi nanti cuy problematika hidup lu pasti akan semakin klimaks. 
Gue cuma ingin mengatakan bahwa segala hal yang lu pilih harus dijalani sampai final, semua itu ukan untuk dikeluhkan karena gue jamin nggak akan pernah selesai segala pekerjaan lu kalau cuma ngeluh, ngeluh dan ngeluh.

So, just do it guys !
FYI that I wrote it causes I really wanna change people's mind being critically in thinking and doing.

Jumat, 07 Juli 2017

Perlombaan Panas antara Matahari dan Manusia

Diposting oleh Unknown di 01.40 0 komentar

Begitu banyak situasi dan kondisi yang dijadikan bahan pembicaraan manusia, namun menurut gue lebih tepatnya sih bukan pembicaraan melainkan sebuah perbincangan. Secara bahasa mungkin kedua kata dasar tersebut hampir mirip, yakni bicara dan bincang. Pada dasarnya ada sedikit perbedaan bahwa "perbincangan" memiliki makna yang sedikit negatif apabila dibandingkan dengan "pembicaraan". 
Topik utama gue saat ini sebenarnya adalah ingin mengkritisi rasa panas yang dimiliki oleh matahari dan manusia.

Lucu juga sih guys kalo membahas hal seperti ini, which is kita ketahui bahwa panas yang dimiliki oleh matahari tuh benar - benar bermanfaat bagi kehidupan manusia dan alam semesta - Nya, lah kalau panas yang dimiliki oleh manusia kira - kira bermanfaat untuk siapa ya guys
Sampai saat ini gue cuma masih punya satu jawaban, panas yang dimiliki oleh manusia hanya bermanfaat untuk manusia - manusia yang memiliki rasa egois dan arogan yang tinggi, finally kehidupan yang dimiliki oleh mereka gak akan pernah ada pada posisi aman maupun nyaman.

Gue berbicara seperti ini berdasarkan fakta - fakta yang seringkali terjadi di kehidupan ini, salah satu contoh aja ya guys gue barengi dengan curcol, beberapa waktu lalu gue pergi ke salah satu rumah makan di daerah gue. Saat gue masuk, tuh tempat bising banget dan gue pun memesan makanan karena perut gue udah gak bisa nahan lapar. Tiba - tiba gue mendengar banyak sekali ocehan yang dikeluarkan dari mulut para ibu - ibu yang terlihat sosialita. 
Mereka saling beradu mulut dan mau ga mau gue pun mendengar apa yang mereka perbincangkan, wow luar biasa dan bukan main, mereka saling memuji, meninggikan, membanggakan secara berlebihan mengenai apa saja yang telah masing - masing dari mereka miliki.

Sementara itu, gue pun melihat ada dua di antara mereka yang terlihat biasa - biasa saja, dalam arti gak seheboh yang lainnya. Gue pun mendengar dan melihat dengan jelas bahwa kedua ibu - ibu itu pun gak mau kalah dan saling membalas kepada yang terlihat mayoritas, mereka berdua merasa direndahkan.
Gue cuma bisa jadi penonton karena hal tersebut sama sekali bukan urusan gue, hanya saja sih memang berisik banget. Pertemuan para ibu sosialita pun berujung kepada perlombaan "panas" yang sukar diselesaikan.

Dalam kasus di atas menyebabkan gue berpikir terus - menerus dan greget banget ingin menceritakan lewat blog ini. 
Sadar gak sih guys, kalau sebenarnya segala yang kita ucapkan dan lakukan akan menjadi boomerang yang akan kembali kepada diri kita masing - masing. Hal yang gue selalu ingat dan gue yakin bahwa kata - kata di bawah ini pasti akan selalu ada dalam ajaran seluruh agama yang ada di dunia, kurang lebih seperti ini : 
"Apabila kamu berperilaku baik terhadap orang lain, maka mereka pun akan begitu padamu. Apabila kamu berperilaku buruk terhadap orang lain, maka mereka pun akan begitu padamu"
Dari kalimat tersebut, gue cukup belajar banyak hal dan dari kalimat tersebut juga gue ingin memberitahukan sama kalian semua bahwa jangan pernah kalian saling merendahkan satu sama lain karena kita mengetahui hakikat manusia itu gak akan pernah puas dengan apa yang mereka miliki. 
Selain daripada itu, Nabi Muhammad S.A.W pun selalu mengingatkan untuk berlomba - lomba dalam kebaikan, bukan berlomba - lomba dalam rasa "panas".

Sabtu, 17 Juni 2017

Beda Kepala, Beda Isi

Diposting oleh Unknown di 23.32 0 komentar
Image Source : Google

Ilustrasi di atas mendeskripsikan suatu hal yang selalu terjadi di kehidupan sosial, baik hal tersebut disengaja untuk dilakukan maupun tidak. Sebagian besar dari kita bisa saja menganggap bahwa ilustrasi tersebut adalah orang - orang yang sedang berkumpul, orang - orang yang saling membutuhkan teman, orang - orang yang sedang bercerita, orang - orang yang sedang bertukar pikiran dan bahkan mungkin kalian dapat beranggapan bahwa mereka adalah orang - orang yang sedang menunggu antrian dan berkumpul di suatu lobby yang di dalamnya terdapat sebuah meja bundar.

Tepat sekali, begitu banyak perkiraan yang dapat diambil dari sebuah gambar dan secara realita hal ini pun memang selalu terjadi karena sebanarnya value yang gue terapkan dalam ilustrasi tersebut adalah bahwa dengan semakin makin banyaknya orang di sekeliling kita, tentu terlihat banyak kepala dan hal yang tak dapat dihindarkan adalah "Beda kepala, beda isi...".

Kalimat tersebut sangat cocok untuk diterapkan dalam suatu keadaan yang tidak pernah lepas dari jangkauan masyarakat sebagai mahluk sosial. Kita tidak dapat menyalahkan orang lain apabila mereka tidak memiliki satu paham dengan apa yang sedang kita pikirkan, melainkan kita harus mengajak untuk saling mempersatukan isi - isi yang terdapat dalam pikiran kita. Meskipun pada dasarnya bukan hal mudah untuk menyatukan banyak pikiran dan mengajak semua orang yang sedang dalam venue sama dengan kita untuk setuju akan hal yang kita pikirkan.

Sebenarnya kita dapat mempersatukan beberapa kepingan pikiran yang ada dalam pikiran semua orang di sekitar kita dengan menggunakan beberapa kata - kata maupun kalimat yang terucap dari pikiran mereka melalui mulut mereka masing - masing. Seringkali kita menganggap remeh orang - orang di sekitar kita, mengenai apa yang mereka pikirkan, ucapkan dan lakukan. Kita selalu memikirkan apa yang ada dalam pikiran kita, namun hal tersebut justru hanya akan memperburuk suatu keadaan dan memperlihatkan keburukan diri kita di hadapan banyak orang.

Maka dari itu, alangkah lebih baik baik apabila kita sebagai manusia yang tau akan kaidah seharusnya lebih mencoba untuk belajar dalam memahami situasi dan kondisi yang sedang terjadi pada saat itu. Pasti ada saja orang yang berpikir dan beranggapan jika mereka mendengarkan pikiran orang lain, automatically mereka akan mengabaikan pikiran dan ide - ide yang dimiliki mereka masing - masing.

Gue di sini bukan so bijak atau apapun sebagainya, melainkan ini gue jadikan sebagai self reminder untuk diri gue sendiri karena begitu banyak yang kita pikirkan dan pertimbangkan hanya akan membuat segala hal yang sederhana akan menjadi sedikit rumit. 

Tidak ada salahnya untuk terus belajar dan saling berbagi pengalaman guys ;)

Minggu, 09 April 2017

WHO AM I ?

Diposting oleh Unknown di 07.12 0 komentar

Gue rasa bukan hanya gue yang masih sedikit mempertanyakan "siapa sih gue ?" karena ternyata  masih banyak banget manusia yang sudah beranjak dewasa, bahkan beberapa yang sudah agak menjadi sedikit tua pun terkadang bingung sama diri mereka masing - masing.
Gue masih ingat banget saat masih ada di bangku Sekolah Dasar (SD), kalo ada yang nanya " cita - cita lu ingin jadi apa nad?" dan jawabannya cuma satu, yakni gue ingin menjadi seorang apoteker yang bisa kerja di lab dengan jas putih yang terlihat cool. Doktrin ini pun terus gue pertahankan sampai akhirnya gue masuk SMA yang ternyata gue bertemu dengan pelajaran kimia, kalian semua udah pada tau lah kalo kimia itu adalah salah satu dasar bagi seseorang yang ingin mengabdikan dirinya pada laboratorium.

Sebenarnya saat gue lulus SMA, gue ingin masuk Sekolah Menengah Farmasi (SMF) dan . . . orang tua kurang setuju kalo misalkan gue harus masuk sekolah farmasi, so gue dengan sedikit terpaksa memilih salah satu SMA negeri yang ada di sekitar daerah gue, Kalo misalkan dibilang ngenes, ya lumayan sih karena bagaimana pun gue ingin langsung masuk ke basis yang emang bakalan menopang gue saat nanti diri gue ingin menjadi seorang apoteker. Namun gue sangat menghargai nasihat dan pertimbangan yang udah orang tua gue kasih karena bagaimana pun kita sebagai anak harus taat sama perintah orang tua supaya dilancarkan setiap usaha dan pilihan kita selanjutnya, 
Orang tua gue bilang kalo masuk SMA bisa lebih luas selanjutnya karena banyak alasan yang emang udah mereka pertimbangkan. Saat gue ulangan harian kimia saat SMA, gue udah kena remedial dong guys dan itu lah masa - masa gue ngerasa kalo gue ga pantas jadi seorang apoteker. Bukan maksud gue merendahkan diri sendiri atau gue mudah menyerah, melainkan karena gue udah bisa menilai sejauh mana kemampuan yang gue punya, gue mampu dan gue dukung. 
Finally, sampai akhirnya gue masuk jurusan IPA pun hanya karena gue 10 besar dan dibantu oleh nilai - nilai di pelajaran umum, pelajaran eksak yang gue lumayan ngerti saat itu cuma biologi dan sisanya say good bye aja deh !

Sebenarnya gue ingin banget pilih jurusan IPS dan untuk kedua kalinya orang tua lebih memberikan suara besar supaya gue tetap di jurusan IPA. Gue sampai bingung apakah gue masih memiliki hak anak untuk mengeluarkan pendapat atau gimana gitu ya, gue pun mencoba untuk berdiskusi sama bokap dan hasilnya adalah 2-0. Yap, dua poin buat orang tua gue dan gue sendiri nol.
Gue pun nurut lagi dengan satu syarat bahwa di tingkat selanjutnya, biarkan gue untuk memilih apa yang bakalan gue pilih. Bokap setuju ga setuju sepertinya yang penting gue tetap harus bertahan di kelas IPA. Jujur aja sih gue belajar niat ga niat saat bangku SMA, gue jarang belajar, saat pelajaran eksak gue ga pernah serius, selalucari zona aman alias duduk di belakang kalo ngga ya di tengah - tengah yang penting kecil kemungkinan gue untuk dipanggil guru. Gue cuma bakalan sedikit serius belajar saat masuk pelajaran umum, salah satunya adalah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn). Pelajaran ini bikin gue senang dan seru aja sih karena kebetulan guru yang ngajar gue saat itu bisa dikatakan TOP BGT deh !
Gue harap beliau - beliau membaca blog gue yang ini deh hehe karena sebagai salah satu wujud terimakasih juga, berkat mereka gue bisa cukup mengerti nilai - nilai yang tersirat dalam negara sebagai seorang warga negara yang baik serta patuh pada hukum.

Kelas XI gue udah mulai mikirin bakalan jadi apa gue selanjutnya, gue ngerasa emang gue ga cocok di bidang eksak karena hasil psikotest yang selalu gue coba pun berkata seperti itu. Gue memang harus memperjuangkan gue suatu hari nanti untuk bisa keluar dari dunia eksak da memilih bidang yang setidaknya bisa diterima oleh hati gue karena gue ga ingin belajar niat ga niat selanjutnya di kemudian hari. Kelas XII gue udah mulai cari tau tentang beberapa bidang yang ingin gue pilih, tentu udah jelas banget bahwa gue akan pilih bidang sosial dan akan benar - benar melupakan kehidupan IPA, itu adalah kalimat yang selalu gue ucapkan saat gue masih SMA. 
Coba kalian pikirin deh, berada di suatu lingkungan yang emang gak kalian suka itu emang positifnya bikin kita tertantang, tapi ya negatifnya juga ada yaitu ya seperti gue ini lah contohnya. 
Gue benar - benar eneg deh, kagak kuat coy karena gue bukan tipe orang yang ingin nyiksa diri gue sendiri, pikiran yang melanda kehidupan gue di dunia IPA emang udah kagak karuan, meskipun kalian bakalan nilai gue lebay saat itu, whatever lah yang jelas itu adalah hal - hal yang gue rasakan saat itu.

Singkat cerita gue akhirnya diterima di salah satu universitas swasta dengan jurusan Ilmu Hubungan Internasional, yap gue pun tau ilmu ini berawal saat gue belajar PKn saat kelas XI di jurusan IPA. Selama kuliah pun puji syukur gue dimudahkan dalam bidang yang gue pilih tersebut, dengan catatan kali ini orang tua gue udah ngasih kewenangan untuk gue karena setelah gue bilang bahwa one day yang ingin belajar dan sukses itu gue, so bokap sama nyokap cukup berikan dukungan dan do'a aja supaya gue bisa mencapai apa yang gue inginkan. Pada tingkat - tingkat awal gue semangat untuk terus belajar, sampai suatu hari tiba.
Gue udah semester VI saat ini, hal yang sama gue tanyakan "Who am I?", gue bakalan jadi apa ya someday, beberapa orang selalu beropini bahwa setiap orang yang ada di jurusan hubungan internasional pasti ingin jadi duta besar, diplomat, menteri luar negeri, atase, dll. 

Sebenarnya gak semua mahasiswa hubungan internasional berkeinginan menjadi profesi - profesi tersebut guys, gue contohnya. Gue berpikir jadi diplomat aja ngga, entahlah lagipula yang selalu gue yakin bahwa bidang yang sedang gue tekuni ini sangat luas targetnya. Sebenarnya gue kuliah sambil bekerja karena gue bukan tipe mahasiswa yang suka berlama - lama di kampus, kecuali buat masuk jam kuliah. Gue orang yang sangat pembosan, jadi setahun yang lalu sebelum gue libur semester pun gue udah melamar ke salah satu lembaga bimbingan belajar dan private dan gue diterima setelah mengikuti beberapa test. 
Udah hampir satu tahun gue kerja sebagai pengajar private untuk anak - anak yang bersekolah di international school. Gue lebih baik menghabiskan waktu luang untuk mencari ilmu, pengetahuan dan pengalaman daripada nongkrong ga jelas dimana lah tempatnya.

Pada akhirnya gue menyadari bahwa memang harus dan suatu kewajiban bagi manusia untuk memikirkan masa depannya ingin menjadi apa, namun tidak ada salahnya apabila kita mencoba sesuatu yang baru dan kita menyukai bidang tersebut. Untuk kalian semua yang sekarang masih dalam proses belajar, semangat terus ya ! 
Meskipun udah ngerasa jenuh seperti gue, tapi ingat guys perjuangan kita masih begitu panjang dan banyak untuk kita raih dalam menjadi manusia yang jauh lebih berkualitas dengan mutu yang teruji secara klinis ;))

Minggu, 19 Maret 2017

Stereotype Berujung Kepribadian

Diposting oleh Unknown di 06.45 0 komentar
Sebenarnya gue agak bingung juga mesti mulai dari mana gue cerita, apa yang selalu gue alami dan rasakan ya hampir selalu sama. Mungkin kali ini dan seterusnya, gue bakalan jadiin blog sebagai tempat curhat gue, exactly about my opinion in this life and everything happened, happens and will be happening in future. Setelah gue pikir - pikir ternyata apapun  hal dan kegiatan yang kita lakukan dalam segala kondisi, pasti aja akan selalu menumbuhkan begitu banyak komentar. Gue sadar banget kok kalau gue bukan artis beken, gaul, keren yang hobinya selalu dikejar paparazzi dan muncul dengan banyak sensasi, finally mereka pun akan dihujati oleh banyak komentar yang 80% so bad to hear. Berangkat dari pengalaman gue pribadi yang emang datang dari kehidupan super biasa, bukan artis, bukan orang beken, populer, maupun dikenal sama masyarakat Indonesia, apalagi masyarakat internasional.

Dari zaman gue kecil, lebih tepatnya saat umur gue masih 5 tahun, gue udah masuk SD. Bukan karena gue belagu sok rajin atau sok pintar, melainkan karena teman-teman di sekitar lingkungan rumah gue udah pada sekolah dengan umur yang cukup untuk mereka memasuk bangku SD dan gue gak punya temen main kalo mereka lagi pada sekolah, akhirnya gue bilang sama nyokap kalo gue ingin masuk SD meskipun harus telat beberapa minggu. Nyokap yang saat itu sadar dan kasian liat gue main sendiri di rumah pun akhirnya kasih izin untuk daftarkan gue ke salah satu sekolah swasta. Beruntung lah gue saat itu karena belum ada aturan ketat bahwa setiap siswa SD minimal harus sudah beranjak usia 6 atau 7 tahun. Kehidupan gue di SD berlangsung cukup baik, meskipun emang gue dianggap 'anak bawang' karena selain umur gue yang masih di bawah teman - teman lain, tubuh gue yang sedikit 'imut' pun mempengaruhi guyonan tersebut. Gue sih fine aja, namun menjelang kelulusan gue, terdengar sedikit sentilan dari beberapa temen dan guru gue yang bilang kalo gue tuh gak ramah, ketus, jutek dan judes. All of the unfine faces came to myself, until my parents knew about it, bokap seringkali negur karena kalo jadi orang tuh harus ramah dan bla bla bla, Gue yang saat itu gak pernah terbesit berpikir mengenai sikap gue yang kata mereka gak ramah  pun sering dijadikan pembicaraan, begitu pun saudara - saudara gue berpikir seperti itu dan malah bikin panas suasana. Padahal di sisi lain gue ga bermaksud seperti itu, sampai akhirnya gue masuk SMP, selama 3 tahun full semua temen nganggap gue cewek judes. Memasuki SMA pun, sama aja, bahkan beberapa guru sempet komen secara halus sama gue.

Hingga akhirnya gue udah beranjak 20 tahun, meskipun terkadang sikap gue masih agak bocah, namun gue bisa berpikir kritis dan dari sini lah gue berpikir kalo orang - orang Indonesia tuh hampir 90% terlalu mudah sensitif dan menanggapi sesuatu secara berlebihan. Hanya karena wajah judes gak ramah seperti gue aja, setiap orang yang gue temui merasa terganggu and gave some advices for changing my face better conditionally. namun percuma aja mereka buang - buang waktu untu komentar mengenai sikap gue karena gue berpikir sesuai dengan apa yang sering dikatakan oleh banyak filsuf that don't judge the book by the cover. Gue sama sekali gak ngerasa kalo pribadi gue baik, tapi gue ingin kasih saran aja bagi setiap orang supaya don't think much about other people and you don't know her or him correctly ! 

Gue gak begitu peduli sama perkataan mereka yang menyudutkan gue sebagai cewe judes, this is my life and I don't care what people says to me, I'm still feeling comfort and walk on my path to do my activities. Semua ini bagaikan stereotype yang udah tumbuh pada diri gue dan berujung pada kepribadian gue yang emang bener-bener seperti mereka bicarakan. Seperti yang lu semua tau, kalo seseorang sering di-judge mengenai dirinya ini lah, itu lah dan lain hal, maka ia pun akan melakukannya secara total supaya menjadikan bukti, kalo emang bener dia konsisten. Well, gue pernah coba untuk bersikap ramah, tapi perasaan gue gak ada perubahan dan orang sekitar pun menanggapi biasa saja. That's why, mereka hanya gak punya kerjaan yang lebih penting selain membicarakan diri orang lain.



Minggu, 12 Maret 2017

Demonstrasi Bawa Perasaan

Diposting oleh Unknown di 00.02 0 komentar

Image source : google

Berbicara bawa perasaan alias baper udah gak asing lagi bagi kaum anak muda Indonesia di zaman ini, meskipun pada realitanya bukan hanya berlaku bagi anak muda saja, melainkan udah tersohor hingga kalangan dewasa. Pertama kali gue dengar kata 'baper' itu rasanya aneh banget dan pas tau apa itu 'baper' beserta artinya gue ngakak sendiri sambil bilang dalam hati "haha lucu juga ya istilah - istilah anak muda sekarang...".
Pasca itu gue pernah baca salah satu artikel yang intinya bahwa setelah ada istilah 'baper', setiap orang semakin merasa segala yang mereka lakukan itu terbatasi dan dibatasi hanya karena 'baper'. Contoh aja nih ya "Ih ngapain sih lu baca novel begituan aja nangis, baper amat sih lu. Lah, dikasih nilai segitu aja seneng, baper lu. BTW, kemarin  orang tua si A meninggal, si A langsung bikin status, baper banget kan dia, bla...bla...bla". Terkadang dengan adanya sikap seperti itu, beberapa orang menjadi enggan untuk mengekspresikan perasaan mereka.

Terbukti banget kan kalau segala hal yang terjadi pasti ujung - ujungnya gak jauh dari 'baper', kebetulan banget gue pun tertarik sama istilah itu untuk suatu kondisi yang emang pantas kalo dibilang bawa perasaan alias baper. Beberapa hari lalu terjadi kehebohan luar biasa yang disebabkan oleh para demonstran angkot di kawasan Kota Bandung terhadap setiap pengemudi dan pengendara transportasi berbasis online. Transportasi berbasis online udah banyak banget dan variasinya pun cukup terkenal seperti G...K, U..R, G..B,  Kalian pun udah gak heran  apa maksud dan tujuan mereka dalam melakukan aksi yang menurut gue sungguh gak berguna banget, pemborosan tanpa hasil. Kenapa gue bisa dengan berani berpendapat kalo yang namanya demonstrasi itu gak penting? Which is yang dilakukan oleh para demonstran angkot saat itu adalah hanya membuat kerusuhan, bahkan mereka hampir membunuh satu rombongan mobil yang mereka pikir sebagai pengemudi transportasi online hanya karena hipotesa bahwa "setiap transportasi yang sedang berhenti adalah transportasi online".

Gue lebih milih kata hipotesa sebagai kata yang lebih cocok digunakan untuk menganalisa kegaduhan mereka karena kalo gue pakai kata asumsi, rasanya saling berlawanan dengan fakta yang terjadi. Hipotesa tentu harus dibuktikan terlebih dahulu apabila kita ingin mengetahui suatu hasil dalam menganalisa, sedangkan asumsi dasar gak perlu dibuktikan karena itu adalah hal yang relevan dan 90% dijadikan sebagai hasil yang pasti akan terjadi. Nah, kesalahan yang dilakukan oleh para demonstran sangat berlebihan, gue sempat berpikir kalau setiap demonstrasi yang terjadi di Indonesia emang mayoritas gak beradab, mereka lebih memprioritaskan perasaan tanpa didasari logika berpikir. Kekerasan dijadikan sebagai rutinitas, kekasaran dijadikan sebagai fasilitas, kerusuhan dijadikan sebagai prioritas, kebencian dijadikan sebagai sebuah totalitas dan kesalahan dijadikan sebagai sebuah integritas. Setiap manusia diberikan akal oleh tuhan untuk digunakan maupun dimanfaatkan dengan baik, lalu kenapa justru yang lebih banyak digunakan oleh manusia adalah perasaan tanpa didasari berpikir terlebih dahulu.

Apabila para demonstran angkot saat itu memang ingin melakukan demonstrasi, cobalah lakukan dengan cara yang sedikit lebih elegant dan beradab tanpa harus mengedepankan emosi. Menurut gue nih, sebelumnya kenapa mereka gak berpikir terlebih dahulu untuk menciptakan inovasi baru, kalau emang transportasi online itu banyak dibur karena mudah cepat sampai tujuan, harga terjangkau, banyak diskon, figure yang nyaman serta tersebar di banyak lokasi. Coba kalau saat itu supir-supir angkot mempromosikan daya tarik dalam menaiki angkot mereka dengan program yang menarik penumpang seperti untuk anak sekolah diberikan potongan harga sekian persen, untuk ibu-ibu diberikan potongan harga sekian persen, untuk penumpang bapak-bapak diberikan potongan harga sekian persen dan untuk manula diberikan potongan harga sekian persen di setiap hari tertentu. Mungkin kalian akan berpikir kalau dengan cara ini sangat merugikan bagi supir angkot, tapi sebenarnya justru akan menarik perhatian penumpang dan pada akhirnya pun gue jamin bakalan jadi hits gak lama setelah mereka open minded to do something unique and better. Atau cara lain seperti mengindahkan figure angkot mereka dengan sedikit kreativitas, misalnya menempelkan dua sayap pesawat di kedua sisi angkot, hal ini bertujuan agar dianalogikan seperti pesawat terbang yang memiliki kecepatan super untuk mengantarkan setiap penumpang ke tempat tujuan dengan cepat. Meskipun itu terdengar weird di hadapan masyarakat, namun kita perlu ingat bahwa segala sesuatu yang terlihat unik dan berbeda itu adalah daya tarik bagi masyarakat.

So that, saat kita berniat untuk berdemo yang harus kalian ingat adalah demo itu bukan tentang perasaan, lagipula tujuan dari demonstrasi adalah untuk menyampaikan opini, bukan untuk memperlihatkan emosi mereka apalagi hanya karena masalah sepele pun kita baper banget. Justru ini yang gue takutkan dari istilah 'baper' yang sebenarnya adalah mereka gak bisa mengendalikan apa yang mereka rasakan dan semakin bertingkah anarkis dalam segala situasi dan kondisi. Bagi kalian yang mengaku sebagai generasi muda, gue harap kalian lebih kritis dan gak mudah terprovokasi oleh suatu kabar yang kalian dengar dari mayoritas karena gak selamanya suara mayoritas adalah suara tuhan, tetap saja kalian harus meneliti dan menganalisa kabar burung yang diterima dan tentunya dengan menggunakan akal dan logika, bukan perasaan. Manusia yang selalu mengandalkan perasaannya, lambat laun akan menciutkan kemampuan berpikirnya dan bersiaplah say good bye to your beauty brain.

Let's think critically in every situation cause actually the benefits those you get from thinking is more real than your feeling !
 

Mumtaz's Script Template by Ipietoon Blogger Template | Gift Idea